BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 11 Oktober 2008

Penerimaan

kalau kau mau ku kau terima kembali
dengan sepenuh hati

aku masih tetap sendiri

ku tahu kau bukan yang dulu lagi
bak kembang sari sudah terbagi

jangan tunduk! tentang aku dengan berani

kalau kau mau ku terima kembali
untukku sendiri tapi

sedang dengan cermin aku enggan berbagi

maret 1943, chairil anwar



Surat Cinta

surat cinta datang dari-Nya
melebur asa menanam perasaan
membaca surat cinta-Mu
tertitik air mata di lembaran

alunan simfoni tasbih
mengiringi taubatku
saat surat cinta-Mu menegurku
lewat indah artinya

bagian hati tak pernah
terlalu mencintai-Mu sekuat ini
hdayah datang saat,
surat cinta-Mu ku perdendangkan

teruntuk : untukku

Jumat, 10 Oktober 2008

chairil Anwar lahir di medan pada tanggal 26 juli 1922 dan wafat di Jakarta pada tanggal 28 april 1949 atau lebih dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" dalam judul bukunya yang berjudul "AKU" .
Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin ia dinobatkan oleh H.B Jasin sebagai pelopor Angkatan '45, dan puisi modern Indonesia.
Dilahirkan di Medan, sebagai anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes yang bekerja sebagai pamongpraja. dan Ibunya Saleha, masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan Sutan Sjahrir (mentri pertama Indonesia). Semasa di Medan Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan pada Chairil Anwar. Dalam hidupnya yang jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal. Chairil melikiskan kedukaan tersebut dalam sajak yang luar biasa pedih.
"Bukan kematian benar yang menusuk kalbu. Keridlaan menerima segala tiba. tak kutahu setinggi itu atas debu. Dan duka maha tuan bertahta"
Chairil masuk sekolah Holland Indische School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada waktu zaman penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah Belanda, tapi ia keluar sebelum lulus. Dia mulai menulis sebagai seorang remaja, namun tak satupun puisi awalnya ditemukan.
Pada usia 9 tahun, setelah perceraian orangtuanya, Chairil Anwar pindah dengan ibunya ke Jakarta dimana ia mulai berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya belum selesai, namun Chairil Anwar menguasai bahasa inggris, belanda, dan jerman. Dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karangan pengarang ternama seperti : Rainer M Rilke, W.H. Aiden, Archibald MacLeish, H.Marsman, J.Slaurhoof, dan Edgar Du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung juga mempengaruhi puisi tatanan kesusastraan Indonesia.
Nama Chairil mulai dikenal setelah tulisannya dimuat di "Majalah Nisan" pada tahin 1942.
Wanita adalah dunia Chairil setelah buku. tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini. Dan semua gadis-gadis itu masuk dalam puisi Chairil Anwar. Namun dengan Hapsah, gadis Karawang ia menikah. Pernikahan itu tidak berlangsung lama akibat kondisi ekonomi dan sifat Chairil yang tidak mau berubah, Hapsah meminta cerai, saat anak mereka berumur 7 bulan.
Vitalitas puisi Chairil Anwar tidak pernah diseimbangi dengan kondisi fisiknya, akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum menginjak usia 27 tahun, ia telah terkena sejumlah penyakit. Hingga akhirnya ia meninggal dalam usia muda akibat penyakit TBC pada pukul 15.15 WIB. Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Makamnya di ziarahi oleh ribuan penggemarnya dari zaman ke zaman. Hari kematiannya di peringati sebagai Hari Chairil Anwar. Umur Chairil memang pendek, namun kependekan itu meninggalkan banyak perubahan pada kesusastraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik,untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf pada peringatan kematian ayahnya pada tahun 1999,"saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar"
Berikut karya-karya Chairil Anwar :
1. Deru Campur Debu (1949)
2. Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
3. Tiga Menguak Takdir (1950) dengan Asrul Sani dan Rivai Apin
4. "Aku ini Binatang Jalang: koleksi sajak tahun 1942-1949", di edit oleh Panusuk Eneste dan kata penutup oleh Sapardi Djoko Darmono (1986)
5. Derai-Derai Cemara (1998)
6. Pulanglah Dia Di Anak Hilang (1948) terjemahan karya Andre Gide
7. Kena Gempur (1981) terjemahan karya John Steinbeck.